Wellnessantara. com. Semangat wellness dan kesadaran diri terasa kental dalam perhelatan mode bertajuk “Kebaya Dalam Keanggunan Tradisional dan Gaya Terkini” yang digelar House of LMAR bersama Grand Diamond Hotel Yogyakarta di D’Lounge, Selasa (28/4/2026). Tak sekadar menjadi panggung fashion, acara ini menjelma sebagai ruang refleksi tentang identitas, kepercayaan diri, dan kekuatan perempuan Indonesia di momen Hari Kartini.

Founder House of LMAR, Lia Mustafa, memaknai kebaya bukan hanya sebagai busana, melainkan bagian dari perjalanan self-love dan penerimaan diri perempuan.
“Kebaya bukan hanya tentang tampilan luar. Ia adalah simbol keanggunan yang lahir dari dalam—tentang bagaimana perempuan merasa nyaman dengan dirinya, percaya diri, dan tetap terhubung dengan akar budayanya,” ujar Lia Mustafa.
Dalam perspektif wellness, kebaya diposisikan sebagai medium yang mengajak perempuan untuk merayakan tubuh, karakter, dan keunikan masing-masing. Siluet yang membalut tubuh dengan lembut, detail yang sarat makna, hingga filosofi di balik setiap kain menjadi pengalaman yang lebih dari sekadar estetika.
Sejumlah desainer seperti Lanny Amborowati, Alma Riva, LMAR Collection, Andraealena, dan Asoka Urban Ethnic menghadirkan karya yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga membawa energi keseimbangan antara tradisi dan modernitas. Perpaduan ini menciptakan harmoni yang merefleksikan perempuan masa kini—dinamis, sadar diri, namun tetap berakar.
Menurut Lia, House of LMAR ingin menjadikan kebaya sebagai bagian dari gaya hidup yang sehat secara emosional dan kultural. Melalui eksplorasi kreatif, kebaya dapat menjadi sarana ekspresi sekaligus terapi visual yang menguatkan identitas.
“Kami ingin perempuan melihat kebaya sebagai sesuatu yang dekat, yang bisa dikenakan dalam berbagai momen, dan yang terpenting—membuat mereka merasa utuh sebagai diri sendiri,” katanya.
Salah satu sorotan dalam perhelatan ini adalah koleksi LMAR yang memadukan kebaya dengan kain khas koleksi Lia Mustafa, diperkaya tas dan clutch artistik karya seniman lukis Niken. Sentuhan seni ini menghadirkan pengalaman visual yang menenangkan sekaligus menginspirasi, sejalan dengan konsep wellness yang mengedepankan keseimbangan antara estetika dan makna.
Kehadiran komunitas pecinta kebaya seperti Kebaya Foundation Yogyakarta, PBBN, D’Saroeng, KKI, Pawonjogan, hingga muse dan guest model dari kalangan Putri Indonesia turut memperkuat energi kolektif dalam merayakan perempuan. Mereka tidak hanya tampil, tetapi juga membawa pesan tentang pentingnya merawat budaya sebagai bagian dari kesehatan identitas.
Bagi Lia Mustafa, peringatan Hari Kartini adalah momen untuk kembali menyelaraskan diri—antara warisan budaya dan perjalanan personal perempuan masa kini.
“Kartini mengajarkan kita untuk menjadi perempuan yang berpikir, merasa, dan bertindak dengan kesadaran. Kebaya adalah salah satu cara kita merawat itu—dengan penuh rasa bangga dan cinta,” ungkapnya.
Lebih dari sekadar peragaan busana, acara ini menjadi ruang yang menghubungkan mode dengan makna yang lebih dalam: tentang ketenangan, kepercayaan diri, dan keberanian menjadi diri sendiri.
Dalam semangat Kartini, kebaya hadir bukan hanya untuk dikenakan, tetapi untuk dirasakan—sebagai simbol harmoni antara tubuh, pikiran, dan budaya yang terus hidup dalam setiap langkah perempuan Indonesia.:Tutup:Lia(Tyo)









