Menu

Mode Gelap
Nglarisi UMKM Jogja 5 Tahun: Inovasi, Jejaring, dan Semangat Tumbuh Bersama Sambut Ramadhan 2026, Gianti Fine Dining Jogja Hadirkan “Kampung Ramadhan Prajan” dengan Bilik Kultum Unik Konten AI Wajib Beretika: Mahasiswa Malang Diajak Ciptakan Ruang Aman Digital Dorong Kemandirian Ekonomi dan Agrowisata, Bupati Gunungkidul Pimpin Penanaman Bibit Kelapa di Wota-Wati Echo Chamber Ekstremisme Menguat di Ruang Digital, Kemenag Kenalkan Kurikulum Berbasis Cinta Tradisi Nyadran di Pakembinangun Jadi Perekat Sosial Sambut Ramadan

Kuliner & Herbal

Dari Lereng Pundong ke Produk Herbal: Wedang Ereng-Ereng, Perjalanan Sunyi Penuh Makna

badge-check


					oplus_2 Perbesar

oplus_2

Wellnessantara.com. Di lereng perbukitan Pundong yang tenang, sebuah perjalanan sederhana tumbuh perlahan menjadi kisah tentang ketekunan, penyembuhan, dan harapan. Wedang Ereng-Ereng bukan sekadar minuman herbal, melainkan cerminan perjalanan hidup Jemi Kanas—tentang jatuh, bangkit, dan menemukan makna di setiap prosesnya.

Jemi Kanas, warga Ngerco RT 01, Seloharjo, Pundong, Bantul, memulai kisahnya dari sebuah keputusan besar. Pada akhir 2010, ia memilih meninggalkan pekerjaannya di perantauan. Awal 2011, ia menetap di Yogyakarta dengan harapan membangun kehidupan yang lebih bermakna, bukan sekadar mencari penghidupan.

“Seperti anak muda pada umumnya, saya datang ke Jogja dengan penuh harapan. Saya mulai berinteraksi dengan masyarakat, aktif dalam kegiatan sosial, organisasi, dan kelompok masyarakat lainnya,” ujar Jemi saat ditemui di Kalimat Kopi, Jalan Nyi Pembayun No.5, Prenggan, Kotagede, Sabtu (29/3/2026).

Perjalanan hidupnya kemudian berubah pada 2016, ketika ia bertemu dengan Irsyam Sigit Wibowo di kawasan wisata Jepang Suroloyo, Pundong. Pertemuan tersebut menjadi titik penting yang membuka wawasan baru tentang pengembangan wisata berbasis masyarakat dan kuliner.

Irsyam,adalah pencipta wedang ereng- ereng irsyam sigit wibowo yang memiliki segudang pengalaman di bidang pariwisata dan kuliner melalui HS Silver, Omah Dhuwur, dan kafe Sisi Selatan, mengajak Jemi untuk ikut mengangkat potensi wisata Pundong. Namun, upaya awal tersebut tidak berjalan mudah. Respons masyarakat masih terbatas, dan mimpi besar terasa jauh dari kenyataan.

Di situlah Jemi diminta untuk memulai dari dirinya sendiri. Sebuah langkah kecil, namun penuh keberanian. Pada akhir 2016, ia merintis Warung Ereng-Ereng di lereng perbukitan—sebuah tempat sederhana yang menghadirkan suasana alam, makanan tradisional, dan minuman berbahan rempah.

Warung tersebut menjadi ruang pertemuan yang hangat. Pengunjung datang bukan hanya untuk menikmati makanan seperti sego sangit, ingkung daun pisang, atau minuman rempah segar, tetapi juga merasakan ketenangan lereng perbukitan. Dari sanalah, Wedang Ereng-Ereng mulai lahir—sebagai minuman yang merepresentasikan kehangatan alam dan kesederhanaan hidup.

Namun, perjalanan itu kembali diuji. Pada pertengahan 2018, Warung Ereng-Ereng harus tutup karena Jemi harus merawat orang tuanya yang sakit.

“Waktu itu saya sangat sedih, karena warung sudah mulai dikenal. Bahkan pengunjungnya juga banyak dari kalangan seniman dan budayawan,” kenang Jemi.

Dalam kesunyian itu, Jemi menemukan makna baru. Ia tidak berhenti. Ia mulai meracik ulang Wedang Ereng-Ereng dalam bentuk kemasan kering agar lebih tahan lama. Proses ini bukan perjalanan singkat. Hampir dua tahun ia melakukan riset mandiri—mengeringkan buah, memadukan rempah, hingga menentukan masa simpan.

Baginya, proses itu bukan hanya tentang produk, tetapi juga tentang memahami waktu. Seperti rempah yang perlu dikeringkan agar lebih kuat, begitu pula manusia yang ditempa oleh kesulitan agar menjadi lebih matang.

Pada 2019, Jemi mendapat pendampingan dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melalui program pengembangan produk lokal. Wedang Ereng-Ereng bahkan sempat direncanakan menjadi minuman khas desa. Meski program tersebut tidak berlanjut, Jemi memilih tetap melangkah secara mandiri.

Ia mengurus legalitas produk, mulai dari pendaftaran merek, sertifikasi halal, hingga izin PIRT. Sebuah proses panjang yang menunjukkan bahwa mimpi membutuhkan kesabaran.

Kini, Wedang Ereng-Ereng hadir dalam dua varian utama—pisang raja dan jeruk nipis—dipadukan dengan rempah alami seperti jahe, serai, kapulaga, kayu manis, dan daun pandan. Menggunakan gula batu sebagai pemanis alami, minuman ini memiliki masa simpan hingga enam bulan.

Keunikan Wedang Ereng-Ereng terletak pada perpaduan rempah dan sari buah alami. Sebuah filosofi tentang keseimbangan—hangatnya rempah yang menenangkan, berpadu dengan segarnya buah yang memberi energi baru.

“Saya ingin menghadirkan minuman rempah yang tidak hanya menghangatkan, tetapi juga menyegarkan. Seperti kehidupan, ada hangat dan segar yang harus berjalan berdampingan,” tutur Jemi.

Saat ini, Wedang Ereng-Ereng masih dipasarkan secara terbatas melalui pasar tradisional, reseller, serta media sosial. Meski perlahan, Jemi percaya setiap langkah kecil memiliki makna.

Ia pun menyimpan harapan untuk kembali membangun Warung Ereng-Ereng di lereng Pundong—bukan sekadar tempat makan, tetapi ruang penyembuhan, tempat orang kembali menemukan ketenangan.

“Harapan saya sederhana. Wedang Ereng-Ereng bisa berkembang, dan suatu saat Warung Ereng-Ereng bisa saya bangun kembali. Saya ingin produk ini menjadi kebanggaan daerah dan memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Bagi yang ingin mengenal lebih dekat Wedang Ereng-Ereng, produk ini dapat diperoleh melalui media sosial Instagram @sendejane serta Facebook Waroeng Ereng-Ereng.

Di balik setiap seduhan Wedang Ereng-Ereng, tersimpan cerita tentang perjalanan hidup, kesabaran, dan harapan. Dari lereng Pundong, Jemi Kanas membuktikan bahwa ketekunan yang dirawat dengan hati, perlahan akan menemukan jalannya sendiri.(Tyo)

Baca Lainnya

Nglarisi UMKM Jogja 5 Tahun: Inovasi, Jejaring, dan Semangat Tumbuh Bersama

12 Februari 2026 - 20:04 WIB

Festival Nitilaku Jamu 2026 Jamu Sebagai Ritual Lintas Generasi

12 Februari 2026 - 10:59 WIB

Cimanis, Inovasi Permen Herbal Siswa MAN 13 Jakarta untuk Bantu Atasi Insomnia Remaja

18 Januari 2026 - 10:05 WIB

KemenUMKM Tegaskan SMESCO sebagai Rumah UMKM, Hadirkan Layanan Terpadu untuk Naik Kelas

27 Desember 2025 - 12:09 WIB

Keripik “Naran” dari Lumajang: Ketika Rasa Pahit Pare Menjadi Kisah Manis Pemberdayaan Desa

26 Desember 2025 - 11:35 WIB

Trending di Berita Unggulan